Jumat, 22 November 2019

PULAU DERAWAN

Kepulauan Derawan Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian Lokasi Kepulauan Derawan, Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur Pantai Pulau Derawan Kepulauan Derawan adalah sebuah kepulauan yang berada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di kepulauan ini terdapat sejumlah objek wisata bahari menawan, salah satunya Taman Bawah Laut yang diminati wisatawan mancanegara terutama para penyelam kelas dunia. Kepulauan Derawan memiliki tiga kecamatan yaitu, Pulau Derawan, Maratua, dan Biduk Biduk, Berau. Sedikitnya ada empat pulau yang terkenal di kepulauan tersebut, yakni Pulau Maratua, Derawan, Sangalaki, dan Kakaban yang ditinggali satwa langka penyu hijau dan penyu sisik. Secara geografis, terletak di semenanjung utara perairan laut Kabupaten Berau yang terdiri dari beberapa pulau yaitu Pulau Panjang, Pulau Raburabu, Pulau Samama, Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban, Pulau Nabuko, Pulau Maratua dan Pulau Derawan serta beberapa gosong karang seperti gosong Muaras, gosong Pinaka, gosong Buliulin, gosong Masimbung, dan gosong Tababinga. Di Kepulauan Derawan terdapat beberapa ekosistem pesisir dan pulau kecil yang sangat penting yaitu terumbu karang, padang lamun dan hutan bakau (hutan mangrove). Selain itu banyak spesies yang dilindungi berada di Kepulauan Derawan seperti penyu hijau, penyu sisik, paus, lumba-lumba, kima, ketam kelapa, duyung, ikan barakuda dan beberapa spesies lainnya. Kepulauan Derawan ini sedang dipromosikan oleh Kabupaten Berau dan Provinsi Kalimantan Timur, sebagai salah satu wisata andalan. Wisatawan lokal dan Mancanegara, makin berwisata disana, pilihan selain untuk menyelam, melihat proses bertelur penyu, juga menikmati pantai yang bersih dan indah. Sepanjang pantai bersih dan tidak ada sampah. Fasilitas komunikasi di Kepulauan Derawan sudah baik, sebagai contohnya adalah sudah terjangkau dengan sinyal 3G. Resort dan Penginapan yang ada di Kepulauan Derawan banyak tersebar di pinggir pantai, dengan harga yang lebih murah misalnya dibandingkan dengan tempat wisata di Bali maupun di Lombok. Kepulauan Derawan telah dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2005. Daftar isi 1 Pulau-pulau di Kepulauan Derawan 2 Potensi Kepulauan Derawan 2.1 Terumbu karang 2.2 Ikan karang 2.3 Padang lamun 2.4 Mangrove 2.5 Perikanan tangkap 3 Kegiatan ekonomi & pariwisata 4 Potensi kawasan konservasi 5 Lihat pula 6 Referensi 7 Pranala luar Pulau-pulau di Kepulauan Derawan[sunting | sunting sumber] Pulau-pulau yang ada di Kepulauan Derawan berjumlah sekitar 31 pulau dan beberapa gosong dan atol. Pulau-pulau ini tersebar pada tiga kecamatan pesisir, yaitu Kecamatan Pulau Derawan, Kecamatan Maratua, dan Kecamatan Biduk-biduk. Luas pulau-pulau ini adalah: Kepulauan Derawan Luas tiap pulau di Kepulauan Derawan No. Nama Pulau Luas dalam hektare (ha) 1. Semut 6,9 2. Andongabu 5,3 3. Bakungan 8,7 4. Bantaian 230,6 5. Besing 560,1 6. Bonggong 123,2 7. Bulingisan 4,5 8. Derawan 44,6 9. Maratua 2375,7 10. Nunukan 4,8 11. Panjang 565,4 12. Rabu-rabu 26,7 13. Sangalaki 15,9 14. Sangalan 3,5 15. Sapinang 241,3 16. Semama 91,1 17. Sidau 31,2 18. Tiaung 372,5 19. Pabahanan 2,0 20. Kakaban 774,2 21. Sodang Besar 6145,8 22. Telasau 1080,0 23. Tempurung 1291,2 24. Bilang-bilangan 25,2 25. Manimbora 2,0 26. Blambangan 22,0 27. Sambit 18,0 28. Mataha 25,8 29. Kaniungan Besar 73,3 30. Kaniungan Kecil 10,2 31. Bali Kukup 18,2 Penggunaan lahan pulau tersebut oleh masyarakat setempat hanya sebatas untuk perkampungan. Selain itu, lahan pulau di Kepulauan Derawan masih dalam bentuk hutan mangrove, belukar, hutan kapur di Pulau Maratua dan vegetasi kelapa. Potensi Kepulauan Derawan[sunting | sunting sumber] Terumbu karang[sunting | sunting sumber] Terumbu karang di Kepulauan Derawan tersebar luas pada seluruh pulau dan gosong yang ada di Kepulauan Derawan. Gosong-gosong yang ada di kepulauan ini di antaranya Gosong Pulau Panjang, Gosong Masimbung, Gosong Buliulin, Gosong Pinaka, Gosong Tababinga dan Gosong Muaras. Tipe terumbu karang di Kepulauan Derawan terdiri dari karang tepi, karang penghalang dan atol. Atol inilah yang telah terbentuk menjadi pulau dan terbentuk menjadi danau air asin. "Survei Manta Tow 2003" menunjukkan tutupan rata-rata terumbu karang di Pulau Panjang adalah 24,25% untuk karang keras dan 34,88 untuk karang hidup. Terumbu karang di Pulau Derawan memiliki tutupan rata-rata karang karang keras 17,41% dan tutupan karang hidup 27,78%. Dengan jumlah spesies 460 sampai 470 menunjukkan bahwa ini menjadi kekayaan biodiversitas nomor dua setelah Kepulauan Raja Ampat. Areal terumbu karang yang utama: Pulau Panjang bagian barat (inlet dan channel) Karang Muaras dengan diversitas tinggi, karang sehat, dan nilai estetika Karang Malalungun, diversity tinggi dengan struktur yang kompleks dengan berbagai habitat Karang Besar yang kaya habitat . Ikan karang[sunting | sunting sumber] Survei ikan karang tahun 2003 menunjukkan bahwa kepulauan ini menghasilkan 832 spesies. Selain itu, diperkirakan sedikitnya 1.051 spesies terdapat di perairan Berau dengan jenis dominan Gobes (Gobiidae), Wrasses (Labridae), dan Damselfishes (Pomacentridae). Padang lamun[sunting | sunting sumber] Padang lamun ditemukan tersebar di seluruh Kepulauan Derawan dengan kondisi yang berbeda dengan rata-rata luas tutupan kurang dari 10% sampai 80%. Ekosistem ini secara ekologi dan ekonomi sangat penting tetapi keberadaannya terancam oleh gangguan dan kegiatan manusia seperti pembukaan hutan besar-besaran, kebakaran hutan, budidaya laut, sedimentasi, baling-baling perahu, dan lain-lain. Di Pulau Derawan terdapat dua jenis lamun yang dominan Thalasia hemprichii dan Halophila ovalis serta empat spesies lamun lain yang ditemukan di sekeliling pulau yaitu Halodule uninervis, Cyamodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, dan Halodule pinifolia. Mangrove[sunting | sunting sumber] Mangrove di kawasan Delta Berau dimanfaatkan masyarakat secara tradisional sebagai sumber mata pencaharian keluarga, seperti menangkap ikan, udang, dan kepiting. Dalam sepuluh tahun terakhir, mangrove di Berau telah banyak dikonservasi menjadi tambak udang dan ikan dengan laju pembukaan lahan yang cepat. Nipah (Nypa fructican) mendominasi komposisi jenis mangrove di kawasan Delta Berau. Hasil kajian evaluasi ekonomi dan konservasi mangrove menunjukkan bahwa nilai ekonomi hutan mangrove memberikan manfaat langsung sebesar AS$ 295.78/ha/th, manfaat tidak langsung AS$ 726.26/ha/th, manfaat pilihan AS$ 358.46/ha/th, manfaat bersih AS$ 1,395.50/ha/th. Perikanan tangkap[sunting | sunting sumber] Kegiatan perikanan yang ada di Kecamatan Derawan dan Maratua meliputi perikanan laut, pengambilan telur penyu, dan budidaya tambak. Hasil penangkapan perikanan laut Kecamatan Kepulauan Derawan merupakan penyumbang terbesar pendapatan Kabupaten Berau dari lima kecamatan yang punya aktivitas penangkapan perikanan laut. Aktivitas ini pada tahun 2001 menyumbang Rp. 37.907.680,00. Jumlah kapal penangkapan ikan yang ada di Kecamatan Derawan dan Maratua tahun 2001 sebanyak 426 dengan jumlah perahu tanpa motor sebanyak 256 unit. Alat tangkap yang ada di Kecamatan Derawan dan Maratua adalah payang (pukat kantong) 74 unit, purse sein (pukat cincin) 14 unit, jaring insang 282 unit, jaring angkat 30 unit, pancing 139 unit, perangkap 66 unit dan alat pengumpul 13 unit. Kegiatan ekonomi & pariwisata[sunting | sunting sumber] Kegiatan perikanan merupakan tulang punggung kegiatan yang ada di Pulau Maratua dan Derawan sebab sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Perikanan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Pulau Maratua dan Derawan adalah ikan pelagis dan ikan karang. Hasil penjualan ikan secara umum dijual di Pulau Derawan dan Maratua, Tanjung Redeb, Surabaya dan beberapa kota luar provinsi yang melewati pengumpul yang cukup besar, bahkan sering dimasukkan kepada eksportir yang kemudian dijual ke konsumen di luar negeri. Dalam bidang pariwisata, kepulauan Derawan menawarkan beragam potensi untuk menambah ekonomi masyarakat di kepulauan Derawan. Saat ini telah banyak warga sekitar yang bekerjasama dengan travel agent dari berbagai kota untuk melayani setiap pelancong yang ingin berlibur di kepulauan Derawan. Beragam macam jenis paket wisata] disajikan dalam bentuk private trip dan juga open trip. Semenjak tahun 2015, untuk menunjang kegiatan kepariwisataan diadakan kegiatan Maratua Jazz & Dive Fiesta yang diprakarsai oleh WartaJazz - The Jazz Ecosystem of Indonesia dan Yayasan Berau Lestari yang didukung Bupati Berau pada saat itu yaitu H. Makmur HAPK dan Kementrian Kelautan dan Perikanan RI dibawah arahan Menteri Susi Pudjiastuti lewat Direktorat Jenderal Pulau-pulau Kecil. Dikarenakan pergantian kepemimpinan di Kabupaten Berau, MJDF tidak dilaksanakan pada tahun 2016 dan kembali dilaksanakan pada tahun 2017 tepatnya di bulan November. Maratua Jazz and Dive Fiesta akan kembali dilaksanakan pada tanggal 27-29 Juli 2018 bertempat di kawasan desa Payung-payung, Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau. Potensi kawasan konservasi[sunting | sunting sumber] Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Berau telah direncanakan kawasan konservasi pulau-pulau kecil di Kepulauan Derawan. Potensi kawasan konservasi ini dilihat dari keanekaragaman hayati yang ada di kepulauan ini antara lain satwa endemik, dan tempat-tempat penting lain. Selain memiliki beberapa ekosistem tropis yang terdiri dari ekosistem terumbu karang, ekosistem lamun, dan ekosistem mangrove, Kepulauan Derawan juga punya spesies yang dilindungi dan khas. Spesies itu di antaranya ketam kelapa (Birgus latro), paus, lumba-lumba (Delphinus), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Erethmochelys fimbriata), dan dugong (Dugong dugon). Ketam kelapa dapat ditemukan di Pulau Kakaban dan Maratua. Paus dapat ditemukan di sekitar Pulau Maratua pada musim tertentu sedangkan lumba-lumba di sekitar Pulau Semama, Sangalaki, Kakaban, Maratua, dan Gosong Muaras. Penyu dapat ditemukan di sekitar Pulau Panjang, Derawan, Semama, Sangalaki dan Maratua serta Dugong di Pulau Panjang dan Semama. Spesies unik lain adalah Pari Manta (Manta birostris) yang terdapat pada di Pulau Sangalaki dan Pigmy Seahorse di Pulau Semama dan Derawan.

PAHLAWAN PATTIMURA

Perjuangan Pattimura yang Masih Tegak Berdiri di Jantung Kota Ambon Home Pariwisata Maluku Thomas Matulessy atau yang biasa kita dengar sebagai Kapitan Pattimura adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Maluku. Ia berasal dari Pulau Seram lahir pada 8 Juni 1783 dari keluarga keturunan bangsawan Pulau Seram di masa itu. Perihal yang paling kita ingat tentang Pattimura adalah perjuangannya melawan penjajahan Belanda yang masuk ke tanah Maluku untuk menguasai perdagangan rempah-rempah. Salah satu pertempuran terbesar yang dipimpinnya adalah ketika rakyat Maluku bersatu untuk merebut Benteng Duurstede dari tangan penjajah Belanda. Pattimura wafat pada tanggal 16 Desember 1817 di umur 34 tahun karena tertangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan. Kapitan Pattimura adalah seorang pemimpin yang berwibawa dan penuh kharisma. Dalam perlawanannya melawan penjajahan Belanda, Pattimura dikenal cerdik dan mampu menghimpun kekuatan besar rakyat Maluku sehingga mempersulit pergerakan Belanda di Maluku. Bahkan, namanya pun disegani oleh para pemimpin VOC kala itu yang harus memutar otak untuk menghadapi perlawanan rakyat Maluku. Tidak heran jika Pattimura sangat piawai dalam pertempuran dan menghimpun pasukan, menurut sejarah ia pernah menjadi tentara berpangkat Sersan dalam kekuatan militer Inggris di tanah Ambon. Jasa dan perjuangan Pattimura sangat berdampak bagi kemerdekaan Indonesia yang kita rasakan bersama saat ini. Walaupun sudah ratusan tahun berlalu, namun nama Pattimura tetap dikenal oleh Bangsa Indonesia hingga masa kini. Pemerintah pun menganugerahi gelar Pahlawan Nasional pada Pattimura dengan harapan dapat menjadi teladan positif bagi generasi penerus Bangsa Indonesia. Tidak hanya sampai disitu, pemerintah lokal kota Ambon pun mengapresiasi perjuangan mulia Pattimura dengan membuat sebuah taman di tengah pusat Kota Ambon dengan patung Pattimura yang gagah berdiri di tengahnya. Taman Pattimura, begitulah taman itu biasa dikenal oleh warga kota Ambon terdapat di samping lapangan merdeka yang menjadi pusat kegiatan kota Ambon. Taman ini berada di sekitar wilayah perkantoran pemerintah Ambon dan menjadi pusat kegiatan warga Ambon khususnya anak-anak muda yang biasa berolahraga di tempat tersebut baik pada pagi hari maupun sore hari. Tempat ini tidak hanya untuk berolahraga, bahkan para wisatawan pun tertarik untuk mendatanginya karena sudah menjadi salah satu obyek wisata. Warga Ambon khususnya anak-anak muda disana sering memakai taman ini sebagai tempat berkumpul dan beraktifitas. Bermain voli, lari pagi, atau hanya sekedar bersantai si sore yang indah, seringkali menjadi pilihan aktifitas untuk dilakukan di tempat ini. Sore hari memang menjadi waktu yang tepat untuk bersantai di Taman Pattimura ini. Ramainya aktifitas warga kota Ambon menjadi obyek yang menarik untuk dilihat dengan kita berada di tengah-tengah mereka. Taman Pattimura sejenak menjadi sebuah perenungan ketika keberadaanya dapat dijadikan motivasi bagi anak-anak muda Ambon untuk berjuang membangun Bangsa Indonesia. Seharusnya kita semua semakin bangga dengan perjuangan Pattimura dan berusaha mewujudkan perjuangan serupa untuk masa depan Indonesia. Warisan Sejarah Dunia Di Kota Ambon Pariwisata Maluku Ambon sebagai ibukota provinsi Maluku tidak hanya kaya akan keindahan alam dan budaya, namun salah satu kota besar di Indonesia Timur ini pun memiliki warisan sejarah yang luar biasa. Tidak hanya sejarah yang berkaitan dengan perjuangan meraih kemerdekaan Bangsa Indonesia, Ambon ternyata terhubung dengan kisah sejarah bangsa lain di luar Indonesia. Salah satu kisah sejarah bangsa lain yang terkait dengan Ambon adalah perjuangan para tentara ANZAC melawan Jepang di perang dunia ke-2. ANZAC sendiri adalah satuan tentara gabungan Australia dan Selandia Baru yang awalnya dibentuk oleh sekutu untuk melawan kekuatan pasukan Turki pada perang dunia ke-1. Pasukan ANZAC umumnya berisi para serdadu yang berasal dari Negara-negara sekutu, terutama persemakmuran Inggris seperti India, Kanada, Afrika Selatan, Selandia Baru dan Australia sendiri. Namun, dalam perkembangannya pada perang dunia ke-2, pasukan ANZAC terus diberikan misi dan salah satunya adalah melawan kekuatan Jepang. Langit yang biru di atas Ambon siang itu membawa saya dan rombongan lain menuju sebuah taman indah di pinggiran kota Ambon. Taman ini bukanlah taman biasa, namun merupakan sebuah makam para pejuang ANZAC yang gugur dalam pertempuran melawan kekuatan tentara Jepang di perang dunia ke-2. Makam ini dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi sangat indah, bahkan bagi sebagian wisatawan tempat ini merupakan sebuah obyek wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Satu hal yang menjadi pertanyaan saya ketika mengunjungi makam ini adalah bagaimana kisahnya hingga para serdadu yang gugur ini bisa dimakamkan di Ambon, padahal tidak banyak peristiwa perang antara sekutu dan Jepang yang terjadi di tempat ini. Ternyata, wilayah makam ini merupakan sebuah penampungan tawanan perang Australia yang kemudian dibeli oleh pemerintah Australia untuk dijadikan makam bagi para serdadu yang gugur di tempat pada masa itu. Umumnya para serdadu gugur ini berasal dari Batalyon 2/21 Australia “Gull Force”. Hingga kini, keluarga para serdadu ANZAC yang gugur masih sering mengunjungi kompleks pemakaman ini. Mereka melakukannya terutama pada tanggal 25 April yang diperingati sebagai ANZAC day dimana pasukan ANZAC pertama kali diterjunkan ke wilayah Gallipoli, Turki pada perang dunia ke-1. Kompleks pemakaman ini merupakan tempat yang berarti bagi keluarga para serdadu yang gugur dalam mengenang kisah perjuangan tentara ANZAC. Pemerintah Indonesia pun bekerjasama dengan pemerintah Australia mengelola tempat ini dengan sangat baik sehingga tampak indah hingga kini. Rumput yang begitu terjaga keindahannya, makam yang berbaris rapi, dan pepohonan yang diatur sehingga meneduhkan tempat ini membuat saya seolah sedang berada di pemakaman luar negeri. Di dekat pintu gerbang depan terdapat sebuah monumen yang berisi nama-nama para serdadu yang gugur. Untuk diketahui, posisi pemakaman ini juga dekat dengan Makam Pahlawan Nasional Indonesia di kota Ambon. Yang pasti, semua dana untuk merawat pemakaman ini ditanggung oleh Australia.

HARI PANCASILA~SEJARAH

Sejarah Pancasila Sejarah Pancasila – Pancasila adalah pandangan hidup bagi bangsa Indonesia yang asas-asasnya wajib diamalkan agar tercipta kehidupan yang aman dan tentram serta selaras dengan perintah Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, kita juga harus mengetahui dan memahami sejarah Pancasila agar kita selalu menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Dari materi sejarah Pancasila yang mungkin sudah sering didengar, Pancasila sendiri berasal dari dua kata dari bahasa Sansekerta, yaitu panca yang berarti lima dan sila berarti asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman untuk seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila yang juga dapat diartikan sebagai lima dasar terbentuknya negara. Istilah Pancasila ini juga termuat dalam Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular. Berikut disajikan sejarah singkat lahirnya Pancasila yang telah kita kenal selama ini: DAFTAR ISI ARTIKEL Awal Mula Sejarah Pancasila Sejarah Lahirnya Pancasila Sebagai Dasar Negara 1. Pembentukan BPUPKI (29 April 1946) 2. Panitia Sembilan (22 Juni 1945) 3. Sidang BPUPKI II(10-16 Juli 1945) 4. Sidang PPKI (18 Agustus 1945) 5. Instruksi Presiden No. 12 Tahun 1968 Awal Mula Sejarah Pancasila Sampai saat ini, hanya satu dokumen sejarah yang ditemukan yang mengungkapkan kata Pancasila di dalamnya yang menjadi sejarah Pancasila yang ada seperti. Dalam Kitab Sutasoma dijelaskan bahwa Pancasila sebagai kata kerja, yakni pelaksanaan norma kesusilaan yang terdiri dari lima poin. Kelima poin tersebut meliputi: dilarang melakukan kekerasan, dilarabf mencuri, dilarang mendengki, dilarang berbohong, dan dilarang meminun minuman keras. Di dalam Kitab Sutasoma juga dituliskan kata yang menjadi inspirasi persatuan segenap bangsa “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Magrwa”. Sumpah Palapa pun juga ditulis sebagai cerita tentang sejarah bersatunya nusantara untuk pertama kalinya oleh Mahapatih Gajah Mada. Semakin berkembangnya zaman, istilah Pancasila muncul dalam pidato-pidato tokoh besar yang berjuang demi Bangsa Indonesia, seperti Soekarno dan H.O.S Cokroaminoto. Namun beberapa literatur yang ada tidak mendukung bahwa istilah Pancasila ditemukan oleh Soekarno. Akan tetapi Soekarno lah yang berpendapat paling lantang untuk menyuarakan Pancasila hingga Pancasila dikenal seperti sekarang ini. Sejarah PKI Sungguh tak mudah perjuangan para tokoh pembela bangsa terdahulu untuk membentuk dasar negara kita yang satu ini. Sejarah Pancasila sebagai dasar negara seperti yang dianut oleh Bangsa Indonesia awalnya dulu terbentuk dari serangkaian sidang-sidang yang diadakan oleh para tokoh pembela. Baca Juga: Sejarah Islam Sejarah Lahirnya Pancasila Sebagai Dasar Negara Sejarah Pancasila Memahami dinamika perubahan susunan sila Pancasila termasuk ke dalam upaya untuk memahami sejarah Pancasila. Bangsa Indonesia yang peduli terhadap pandangan hidup serta dasar negara kita seharusnya mendalami materi sejarah Pancasila yang dulunya berliku-liku hingga menciptakan Pancasila yang sangat ideal bagi Bangsa Indonesia ini Adapun beberapa keputusan politik yang berpengaruh terhadap lahirnya Pancasila. Anda tentunya sudah sering mendengar istilah kepanitiaan yang terbentuk pada saat itu, seperti BPUPKI, PPKI, dan Panitia Sembilan. 1. Pembentukan BPUPKI (29 April 1946) Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bertujuan untuk membahas hal-hal yang berhubungan dengan tata pemerintahan Indonesa, termasuk dasar negara. Sidang BPUPKI inilah yang menjadi sejarah Pancasila sebagai dasar negara. Sidang BPUPKI ini diketuai oleh Dr. Radjiman Widyodiningrat dengan 33 pembicara pada sidang pertama BPUPKI (29 Mei-1 Juni 1945). Mohammad Yamin (29 Mei 1945) Mohammad Yamin yang merupakan salah satu tokoh penting kemerdekaan Indonesia, mengusulkan dasar negara yang disampaikan dalam pidato tidak tertulisnya pada sidang BPUPKI yang pertama, diantaranya peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat. Setelah itu, beliau juga mengusulkan rumusan 5 dasar yang merupakan gagasan tertulis naskah rancangan UUD Republik Indonesia, yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa. Kebangsaan Persatuan Indonesia. Rasa Kemanusian yang Adil dan Beradab. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Soepomo (31 Mei 1945) Budaya Indonesia Dasar negara yang diusulkan oleh Mr. Soepomo antara lain: Paham Persatuan. Perhubungan Negara dan Agama. Sistem Badan Permusyawaratan. Sosialisasi Negara. Hubungan antar Bangsa yang Besifat Asia Timar Raya. Soekarno (1 Juni 1945) Pada sidang BPUPKI yang pertama ini, Soekarno juga mengusulkan dasar negara yang terdiri dari 5 poin. Dan kemudian dinamakan dengan Pancasila yang meliputi: Kebangsaan Indonesia Internasionalisme atau Perikemanusiaan Mufakat atau Demokrasi Kesejahteraan Sosial Ketuhanan yang Berkebudayaan Hasil usulan dari ketiga tokoh pada sidang BPUPKI tersebut ditampung dan kemudian dibahas lagi pada lingkup kepanitiaan yang lebih kecil. Panitia yang merupakan bentukan BPUPKI tersebut sering dikenal sebagai Panitia Sembilan. 2. Panitia Sembilan (22 Juni 1945) Panitia yang beranggotakan sembilan orang ini berhasil merumuskan naskah Rancangan Pembukaan UUD yang dikenal sebagai Piagam Jakarta (Jakarta Charter). Adapun rumusan Pancasila yang termaktub dalam Piagam Jakarta: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksan dalam permusaywaratan/perwakilan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia 3. Sidang BPUPKI II(10-16 Juli 1945) Untuk membahas hasil kerja panitia sembilan, BPUPKI mengadakan sidang yang kedua dan menghasilkan beberapa keputusan, yang meliputi: pertama, kesepakatan dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila seperti yang tertuang dalam Piagam Jakarta. Kedua, negara Indonesia berbentuk negara Republik, hsail ini merupakan kesepakatan 55 suara dari 64 orang yang hadir. Ketiga, kesepakatan mengengai wilayah Indonesia yang meliputi wilayah Hindia Belanda, Timor Timur, sampai Malaka (Hasil kesepakatan 39 suara). Dan yang terakhir, pembentukan tiga panitia kecil sebagai: Panitia Perancang UUD, Panitia Ekonomi dan Keuangan, Panitia Pembela Tanah Air. Akhirnya, pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia secara resmi memproklamasikan kemerdekaannya. Sehari setelah kemerdekaan, BPUPKI diganti oleh PPKI yang bertujuan untuk menyempurnakan rumusan Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Sejarah Kemerdekaan Indonesia Baca Juga: Sejarah Pki 4. Sidang PPKI (18 Agustus 1945) Dalam sejarah Pancasila, sidang PPKI yang dilakukan sehari setelah Indonesia merdeka masih saja terjadi perubahan pada sila pertama yang diusulkan oleh Muhammad Hatta. Sila pertama yang semula berbunyi ”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, kemudian diubah menjadi lebih ringkas, yaitu”Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sehingga Pancasila menjadi: Ketuhanan Yang Maha Esa Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Penghapusan sembilan kata dari sila pertama tersebut sering menjadi isu yang kontroversial pada saat itu, bahkan hingga kini. Namun yang harus kita tanamkan dan catat untuk diri masing-masing dari materi sejarah Pancasila ini, sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa berlaku untuk semua rakyat Indonesia. Seharusnya apabila kita meresapi sejarah Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, segala permasalahan yang menyangkut dengan sila pertama tidak harus dan tidak patut untuk terjadi lagi. Karena hal tersebut akan bertentangan dengan Pancasila. 5. Instruksi Presiden No. 12 Tahun 1968 Semakin berkembangnya zaman, Pancasila dinilai mengalami beberapa keragaman baik dalam rumusan, pembacaan atau pun pengucapannya. Untuk mengantisipasi terhindarnya keragaman tersebut, Presiden Suharto pada tahun 1968 mengeluarkan Instruksi Presiden tentang rumusan Pancasila yang benar, yaitu sebagai berikut: Ketuhanan Yang Maha Esa Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Itulah sejarah singkat lahirnya pancasila yang kini menjadi pandangan hidup untuk berbangsa dan bernegara. Sudah sepatutnya kita menghargai para tokoh pembela terdahulu yang telah mencetuskan dan menyusun Pancasila ini. Pancasila merupakan jati diri bangsa yang harus kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena Pancasila ini merupakan ideologi bangsa Indonesia yang paling ideal dan tidak dapat digantikan lagi oleh ideologi lain.

SEJARAH PRAMUKA

Sejarah Berdirinya Pramuka Sejarah Pramuka Sejarah Pramuka baik di Indonesia maupun di dunia tidak pernah lepas dari Baden Powell selaku Bapak Pandu Sedunia, pendiri gerakan Pramuka. Bermula ketika pria ini melaksanakan perkemahan pertamanya bersama 22 anak laki-laki pada tanggal 25 Juli 1907 di Pulau Brownsea, Inggris. Perkemahan tersebut dilakukan selama 8 hari. Dan segala sesuatu yang terjadi saat itu menjadi dampak yang besar bagi sejarah Pramuka Dunia. Sejak kecil, Baden Powell dikenal seagai anak yang sangat cerdas, lucu dan gembira. Sehingga disukai oleh banyak orang. Bahkan ia juga pintar dalam memainkan beberapa alat musik seperti biola dan piano. Saat dewasa Baden Powell bergabung dengan Militer Inggris yang memberikan pengalaman sebagai seorang tentara. Sikap militer yang melekat pada dirinya yaitu tegas, disiplin dan terampil inilah yang menjadi ciri khas gerakan Pramuka. Pengalaman-pengalaman yang dialami olehnya, kemudian ditulis dalam buku yang menjadi asal mula munculnya sejarah Pramuka di dunia. Sejarah Pramuka di dunia dimulai ketika Baden Powell mencatat pengalamannya dalam buku Scouting for Boys tahun 1908. Buku itu sengaja dibuat sebagai panduan dalam acara perkemahan yang dirintisnya. Tidak hanya di Inggris, buku ini juga laris di negara-negara lain. Sehingga organisasi-organisasi Pramuka bermunculan yang ditujukan kepada anak laki-laki saja. Pada tahun 1912, bersama Agnes yang merupakan adik perempuan Baden Powell mendirikan organisasi Pramua untuk wanita dengan nama Girl Guides. Sejarah Renang Pada tahun 1916, didirikan organisasi Pramuka untuk usia siaga. Organisasi tersebut dinamai CUB (anak serigala). Kemudian tahun 1918, didirikannya Rover Scout yang merupakan kelompok untuk remaja berusia 17 tahun. Dan tahun 1922, Baden Powell kembali mempublikasikan buku Rouvering to Success (Mengembara Menuju Bahagia). Dimana buku tersebut bercerita tentang seorang pemuda yang sesegera mungkin mengayuh perahu sampannya menuju pantai bahagia. Tanggal 30 Juli sampai 8 Agustus 1920 di Olympis Hall, London, sejumlah 800 orang partisipan Pramuka melakukan jambore dunia untuk pertama kalinya. Jambore ini diikuti oleh 34 negara. Dan dalam acara tersebut, Baden Powell dinobatkan sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World). Dan di tahun yang sama dibentuk pula Dewan Internasional organisasi Pramuka yang beranggotakan 9 orang. Dimana Kota London merupakan kantor kesekrariatan Pramuka sedunia. Yang kemudian dipindahkan ke Ottawa, Kanada tahun 1958 dan berpindah lagi ke Geneva, Swiss tahun 1968. Baca Juga: Sejarah Renang Sejarah Pramuka Di Indonesia Sejarah Pramuka Sejarah Pramuka di Indonesia dimulai dengan pasang surut dalam aktivitas organisasi. Dimana pada saat itu Indonesia masih berada dalam masa penjajahan. Sehingga Indonesia dikenal dengan tiga masa Pramuka. Yaitu Gerakan Pramuka pada Masa Penjajagan Belanda, Gerakan Pramuka pada Masa Penjajagan Jepang dan Gerakan Indonesia setelah Indonesia Merdeka. A. Sejarah Pramuka Indonesia Masa Penjajahan Belanda Gerakan kepramukaan ini dibawa oleh Belanda ke Indonesia pada masa kolonial. Didirikan oleh Belanda dengan nama Nederland Indische Padvinders Vereeniging atau NIPV. Dalam bahasa Indonesia dikenal denngan Persatuan Pandu-pandu Hindia Belanda. Beberapa tokoh menganggap organisasi ini bisa membentuk karakter masyarakat yang saat itu masih dijajah. Sehingga beberapa organisasi lain juga didirikan. Kemudian setelah Sumpah Pemuda, kesadaran masyarakat Indonesia semakin meningkat. Hingga beberapa organisasi kepanduan bergabung. Pada tahun1930 terbentuk Pandu Pemuda Sumatera (PPS). Tahun 1931 terbentuk Persatuan Antar Pandu Indonesia. Budaya Indonesia Kemudian tahun 1936 berubah nama menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI). BPPKI melakukan kegiatan PERKINO (Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem). Perkemahan inilah yang menjadi cikal bakal pelaksanaan kegiatan Jambore hingga sekarang. B. Sejarah Pramuka Indonesia Masa Penjajahan Jepang Pada masa penjajahan Jepang, gerakan Pramuka terus bertahan. Namun, ketika masa Perang Dunia ke-2, tentara Jepang melakukan penyerangan kepada Belanda. Sehingga banyak tokoh kepanduan Indonesia yang ditarik masuk Keibondan, PETA dan Seinendan. Yang merupakan organisasi bentukan Jepang yang dgunakan untuk mendukung tentara Jepang. Bahkan Jepang juga melarang berdirinya partai dan organisasi rakyat Indonesia. Tidak hanya itu, Jepang menganggap gerakan kepanduan merupakan organisasi berbahaya karena dapat meningkatkan semangat persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia. Meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan semangat kepanduan Indonesia untuk menjalankan PERKINO II dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia mengusir tentara Jepang, C. Sejarah Pramuka Indonesia Zaman Kemerdekaan Tidak lama setelah Indonesia Merdeka, yaitu pada tanggal 28 Desember 1945, didirikan Oraganisasi Pandu Rakyat Indonesia di Kota Solo. Organisasi ini ditetapkan sebagai wadah kepanduan dimana anggota kepanduan Indonsia bisa bernaung. Pada tahun 1961, terdapat sekitar 100 organisasi kepanduan di Indonesia yang terbagi menjadi 3 federasi organisasi. Yaitu, Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia, Ikatan Pandu Indonesia dan Persatuan Putera Puteri Indonesia. Kemudian pada tanggal 14 Agustus 1961 Gerakan Pramuka dikenalkan pada masyarakat Indonesia dnegan resmi. Oleh sebab itu, Hari Pramuka diperingati setiap tanggal 14 Agustus. Dengan sejarah Pramuka yang sudah dijelaskan tersebut, kita sebagai bagian dari Indonesia diharapkan dapat lebih menghargai organisasi kepanduan di manapun. Karena organisasi tersebut memang dapat membentuk karakter setiap orang dan memberikan pengalaman.

Hari Guru Nasional~ Sejarah

Hari Guru Nasional telah dicetuskan sejak tahun 1994 sesuai dengan keputusan presiden. Berdasarkan Keppres Nomor 78 Tahun 1994 dan pada UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, tanggal 25 November dipilih sebagai Hari Guru Nasional dan diperingati bersamaan dengan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). PGRI terbentuk pada 25 November 1945 oleh Rh. Koesnan, Djajeng Soegianto, Amin Singgih, Soetono, Soemidi Adisasmito, Ali Marsaban, dan Abdullah Noerbambang. Sebelum menjadi persatuan para guru, perkumpulan ini bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). PGHB didirikan pada 1912 dan beranggotakan kepala sekolah, guru bantu, guru desa, sampai perangkat sekolah lainnya. Kemudian nama PGHB diubah menjadi persatuan Guru Indonesia (PGI). Saat pendudukan Jepang, PGI dilarang. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, PGI menggelar Kongres Guru Indonesia yang pertama kalinya pada 24-25 November 1945 di Surakarta, Jawa Tengah. Salah satu hasil Kongres adalah mereka mengesahkan terbentuknya PGRI. Untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, setiap tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru. Di beberapa negara, hari guru diperingati dengan tanggal yang berbeda-beda.

Puisi Guru di Hari Guru

Guruku, Kau tauladan kami Kau mendidik kami Kami hatur kasih padamu Guruku, Kita selalu berjumpa setiap hari Di sekolah Untuk menimba ilmu Hingga segudang Kau membimbingku Kau mendidikku Kau guruku Pahlawan tanpa tanda jasa Adalah julukanmu Tak pernah jengah mengajari Guruku, Jasamu begitu besar Seperti lentera di malam hari Seperti lilin lilin ketika lampu mati Seperti iltulah dirimu Kau abdikan dirimu tanpa bosan Untuk bangsa dan negara ini Aku tahu di dadamu ada garuda Sayapnya yang menjulang penuh ilmu Jatuh bangun pasti sudah kau lalui Hingga langit menjadi hamparan keindahan Cakarnya yang membawa merah putih Seperti dirimu yang membawa persatuan Hingga maut menjemput Guruku, maafkanlah atas segala sengaja dan ketidaksengajaanku yang sering membuatmu marah dan kecewa Sikap dan perilaku yang tidak sesuai harapanmu Kuingin tetap menjadi pelita bagiku Agar duniaku tetap bersinar terang karena ada cahaya ilmu darimuf

Jumat, 15 November 2019

SEJARAH PERTEMPURAN DI KOTA TARAKAN

Pertempuran Tarakan (1945)

Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian
Pertempuran Tarakan (1945)
Bagian dari Teater Pasifik Perang Dunia II
Australian casualties Sykes Tarakan 5-6-45.jpg
Infantri Australia maju melalui tank penyimpanan minyak yang hancur di Bukit Tank, Tarakan.
Tanggal1 Mei-19 Juni 1945
LokasiPulau TarakanHindia Belanda
HasilKemenangan Sekutu
Pihak terlibat
 Australia
 Amerika Serikat
 Belanda
 Jepang
Tokoh dan pemimpin
Brigadir David WhiteheadMayor Tadai Tokoi
Kekuatan
15.5322.200
Korban
Lebih dari 251 gugur, lebih dari 669 terluka.
Korban sipil tak diketahui.
1.540 gugur, 252 tertangkap sebelum 15 Agustus 1945
Pertempuran Tarakan adalah panggung pertama dalam kampanye Borneo 1945. Pertempuran ini bermula dengan pendaratan amfibi oleh pasukan Australia pada tanggal 1 Mei, dengan nama sandi Operasi Obo Satu. Walaupun pertempuran ini berakhir dengan kemenangan pasukan Sekutu atas Jepang, kemenangan ini umumnya dianggap tak setimpal dengan harga Yang mesti dibayar sekutu. 
Latar belakang[sunting | sunting sumber]
Tarakan ialah sebuah pulau lepas pantai Borneo. Luas pulau ini 303 kilometer persegi (117 mi²), sebagian besar diliputi oleh rawa atau bukit yang tertutup hutan lebat di masa pertempuran itu. Tarakan adalah salah satu bagian Hindia Belanda dan penting sebagai pusat produksi minyak, karena 2 ladang minyak di pulau ini memproduksi 80.000 barel minyak tiap bulan pada tahun 1941.[1]

Pendudukan Jepang[sunting | sunting sumber]

Mendapatkan ladang minyak Tarakan adalah satu tujuan awal Jepang selama Perang Pasifik. Jepang menyerang Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942 dan mengalahkan garnisun Belanda yang kecil dalam pertempuran yang berlangsung selama 2 hari di mana separuh pasukan Belanda gugur. Saat ladang minyak Tarakan berhasil disabotase oleh Belanda sebelum penyerahannya, Jepang bisa dengan cepat memperbaikinya agar bisa menghasilkan lagi dan 350.000 barel diproduksi tiap bulan dari awal tahun 1944.[2]
Menyusul penyerahan Belanda, 5.000 penduduk Tarakan amat menderita akibat kebijakan pendudukan Jepang. Banyaknya pasukan Jepang yang ditempatkan di pulau ini mengakibatkan penyunatan bahan makanan dan sebagai akibatnya banyak orang Tarakan yang kurang gizi. Selama pendudukan itu, Jepang membawa sekitar 600 buruh ke Tarakan dari Jawa. Jepang juga memaksa sekitar 300 wanita Jawa untuk bekerja sebagai "jugun ianfu" (wanita penghibur) di Tarakan setelah membujuk mereka dengan janji palsu mendapatkan kerja sebagai juru tulis maupun membuat pakaian.[3]
Arti penting Tarakan bagi Jepang makin menguap dengan gerak maju cepat angkatan Sekutu ke daerah itu. Tanker minyak Jepang yang terakhir meninggalkan Tarakan pada bulan Juli 1944, dan serangan udara Sekutu yang hebat pada tahun-tahun itu menghancurkan produksi minyak dan fasilitas penyimpanan di pulau itu.[4] Serangan ini juga membunuh beberapa ratus penduduk sipil Indonesia.[5] Sejalan dengan kepentingannya yang makin menurun, garnisun Jepang di Tarakan berkurang pada awal 1945 saat salah satu dari 2 batalion infantri yang ditempatkan di pulau itu (Batalion Infantri Independen ke-454) ditarik ke Balikpapan. Batalion ini dihancurkan oleh Divisi ke-7 Australia pada bulan Juli selama Pertempuran Balikpapan.[6]

Rencana Sekutu[sunting | sunting sumber]

Tujuan utama serangan Sekutu di Tarakan (nama sandi "Obo Satu") adalah mendapatkan dan mengembangkan lapangan udara di pulau itu agar bisa digunakan untuk mempersiapkan perlindungan udara untuk pendaratan berikutnya di BruneiLabuan, dan Balikpapan. Tujuan sekunder operasi itu adalah merebut ladang minyak Tarakan dan dibawa ke dalam operasi itu sebagai sumber minyak untuk pasukan Sekutu di panggung ini.[7]
Di bawah perencanaan pra-serangan, diharapkan bahwa sayap pesawat tempur akan bermarkas di Tarakan 6 hari setelah pendaratan dan angkatan ini akan dikembangkan untuk juga menyerang sayap 9 hari kemudian dan mempersiapkan fasilitas untuk 4 skuadron berikutnya dalam 21 hari pendaratan.[8]
Penggagas rencana Sekutu memiliki intelijen di Tarakan dan pembelanya. Intelijen ini telah didapat dari sejumlah sumber seperti intelijen penghubung, penerbang pengintai dan pemotret serta pejabat kolonial Belanda.[9] Tarakan adalah prioritas pertama Services Reconnaissance Department (SRD) Australia dari bulan November 1944. Namun, kesulitan operasi penyusupan ke pulau kecil seperti itu dan perebutan kuasa dalam SRD menyebabkan organisasi hanya bisa memberi bantuan terbatas pada para penerbang.[10]

Pasukan yang berhadapan[sunting | sunting sumber]

Prajurit dari Batalion ke-2/48 menyaksikan konvoi yang membawa mereka ke Tarakan

Sekutu[sunting | sunting sumber]

Pasukan Sekutu yang bertanggung jawab untuk pendudukan Tarakan dipusatkan sekitar hampir 12.000 prajurit dari Grup Brigade ke-26 Australia. Brigade ke-26 dibentuk pada tahun 1940 dan menyusun 3 batalion infantri veteran yang telah menyaksikan gerakan di Afrika Utara dan Papua. Grup Brigade juga termasuk resimen artileri, skuadron tank dari Resimen Lapis Baja ke-2/9skuadron komando, satuan perintis dan zeni. Satuan tempur itu didukung oleh banyaknya satuan logistik dan medis.[11] Sementara Grup Brigade ke-26 amat melebihi kekuatan pembela Jepang di Tarakan yang diketahui, Sekutu menjalankan angkatan yang besar ini karena pengalaman mereka sebelumnya menunjukkan akan sulit mengalahkan angkatan Jepang jika mundur ke pedalaman Tarakan yang keras.[12]
Grup Brigade ke-26 didukung oleh satuan udara dan laut Sekutu. Satuan udara didatangkan dari Australian First Tactical Air Force (1 TAF) dan United States Thirteenth Air Force dan termasuk skuadron tempur dan pengebom. Angkatan Laut didatangkan dari United States Seventh Fleet dan termasuk beberapa kapal perang dan pengangkut Royal Australian Navy. Karena tujuan utama menyerang Tarakan adalah untuk menggunakan lapangan terbang pulau itu, angkatan penyerang itu juga termasuk sejumlah besar satuan darat Royal Australian Air Force, termasuk Sayap Konstrukti Lapangan Udara No. 61[13]
Angkatan yang mendarat di Tarakan termasuk hampir 1000 pasukan AS dan Belanda. Pasukan AS termasuk zeni U.S. Army yang mengawaki kapal pendaratan pasukan penyerang dan LVT serta detasemen Seabee United States Navy di atas Landing Ship Tank. Angkatan Belanda diatur ke dalam 1 kompi dari infantri Ambon yang dikomandoi oleh perwiraBelanda dan satuan urusan sipil.[14]

Jepang[sunting | sunting sumber]

Pada saat pendaratan Sekutu, angkatan Jepang di Tarakan berjumlah 2.200 orang yang didatangkan dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Satuan terbesar adalah Batalion Infantri Independen ke-455 yang berkekuatan 740 orang yang dikomandoi oleh Mayor Tadai Tokoi. 150 pasukan pendukung AD juga ada di Tarakan. Sumbangan AL kepada garnisun Tarakan tersusun atas 980 pelaut yang dikomandoi oleh Komandan Kaoru Kaharu. Satuan laut utama adalah Angkatan Garnisun Laut ke-2 yang berkekuatan 600 orang. Satuan laut ini dilatih bertempur sebagai infantri dan mengoperasikan beberapa senapan pertahanan pesisir. 350 pekerja minyak sipil Jepang juga diharapkan bertempur pada saat serangan Sekutu. Angkatan Jepang termasuk sekitar 50 orang Indonesia yang berdinas di satuan pengawal pusat. Mayor Tokoi mengarahkan keseluruhan pertahanan Tarakan, meskipun hubungan antara AL dan AD buruk.[15]
Angkatan Jepang dipusatkan di sekitar Lingkas, pelabuhan utama Tarakan dan tempat satu-satunya pantai yang cocok untuk pendaratan pasukan.[16] Pembela itu telah menghabiskan waktu beberapa bulan sebelum serangan yang menyusun posisi bertahan dan menanam ranjau.[17] Pertahanan yang diatur itu banyak dipakai selama pertempuran, dengan taktik Jepang yang difokuskan pada posisi bertahan pra-persiapan yang kuat. Jepang tak melakukan kontra-serangan besar apapun, dan kebanyakan gerakan menyerang terbatas pada beberapa pihak penyerang yang mencoba menyelusup garis Australia.[18]

Operasi persiapan[sunting | sunting sumber]

Peta yang menunjukkan gerakan satuan Sekutu selama pertempuran
Sebelum tibanya angkatan penyerang, garnisun Jepang di Tarakan dipusatkan pada serangan udara dan laut intensif antara tanggal 12-29 April.[19] Pengeboman udara atas Tarakan dipusatkan pada daerah yang berdampingan dengan pantai pendaratan yang direncanakan di Lingkas dan bertujuan menihilkan pertahanan Jepang di daerah itu. Tank penyimpanan minyak di Lingkas adalah sasaran utama karena ditakutkan minyak di tank-tank itu bisa meledak dan digunakan melawan pasukan Sekutu. Pengeboman itu memaksa sebagian besar penduduk sipil Tarakan untuk lari ke pedalaman.[20]
Karena perlu membersihkan banyaknya ranjau laut di seputar pulau itu dan rintangan pantai yang meluas di Lingkas, Sekutu tidak mencoba-coba pendaratan mendadak. Unsur pertama dari armada serangan tiba di lepas pantai pada tanggal 27 April, 4 hari sebelum tanggal pendaratan utama yang direncanakan. Operasi pembersihan ranjau diselesaikan pada tanggal 1 Mei yang akibatnya 2 kapal penyapu ranjau kecil rusak.[21]
Zeni-zeni dari Kompi Medan 2/13 beristirahat setelah menyapu musuh yang mempertahankan pantai.
Pada tanggal 30 AprilSkuadron Komando Kavaleri ke-2/4 dan Deretan ke-57 dari Resimen Medan ke-2/7 mendarat di Pulau Sadau yang berdekatan untuk mendukung zeni yang ditugasi membersihkan rintangan lepas pantai basis penyerangan. Dengan cepat angkatan ini mengamankan pulau yang tak dipertahankan itu.[22] Pendaratan di Pulau Sadau adalah pendaratan pertama pasukan Australia di wilayah bukan Australia di Pasifik sejak akhir 1941 (keikutsertaan Australia dalam Kampanye Papua dari tahun 1942 dibatasi oleh porsi Australia di Papua).[23] Satu-satunya kehilangan Sekutu dalam operasi ini adalah USS Jenkins yang rusak saat menabrak ranjau selama membantu pendaratan.[24]
Tugas membersihkan rintangan pantai di Lingkas dibebankan kepada Kompi Medan ke-2/13. Pertahanan itu menyusun sederetan kawat berduri, pos kayu dan rel baja sepanjang 125 yar dari pantai. Pada pukul 11:00 pada tanggal 30 April, 8 pihak zeni maju di LVT dan mendaratkan kapal untuk membersihkan rintangan itu. Zeni-zeni itu didukung oleh senapan di Pulau Sadau serta kapal perang dan pesawat Sekutu. Beroperasi di tengah-tengah tembakan Jepang, zeni-zeni itu membersihkan semua rintangan yang menghalangi pendaratan ke pantai. Sementara korban parah telah diperkirakan, Kompi Medan ke-2/13 menyelesaikan tugasnya tanpa kerugian.[25]

Pertempuran[sunting | sunting sumber]

Pendaratan[sunting | sunting sumber]

Gelombang ke Batalion Infantri ke-2/48 yang meninggalkan HMAS Manoora
Angkatan penyerang utama tiba di pesisir lepas Tarakan di pagi hari tanggal 1 Mei. Didukung oleh pengeboman udara dan laut yang deras, Batalion ke-2/23 dan Batalion ke-2/48 melakukan pendaratan amfibi di sekitar pukul 08:00. Tiada perlawanan yang dihadapi di pantai, dan 2 batalion hanya mendapat sedikit korban yang membersihkan pertahanan pesisir. Pada dini hari, pendarat Australia di muka pantai meluas sampai 2.800 yar sepanjang pesisir dan lebih dari 2.000 yar ke pulau.[26] Sebagian satuan tempur Grup Brigade ke-26 yang tersisa, termasuk skuadron tank Matilda II, kemudian mendarat pada tanggal 1 Mei.[27] Korban Sekutu lebih kecil daripada yang diperkirakan, dengan terbunuhnya 11 orang dan terlukanya 35 orang.[28] Perlawanan Jepang yang lemah terjadi karena pengeboman yang deras sebelum pendaratan yang memaksa pembela Tarakan meninggalkan pertahanan kuat di Lingkas.[29]
Sementara infantri itu berhasil mengamankan muka pantai, pendaratan itu terhambat oleh keadaan pantai yang buruk. Banyak kendaraan Australia terjebak di lumpur Pantai Lingkas yang lunak, dan 7 LST kandas setelah komandannya salah menilai penarikan kapal itu ke pantai. Sedikitnya tanah padat di muka pantai menyebabkan kemacetan yang parah dan berakibat tak satupun dari senapan Resimen Medan ke-2/7 yang dipergunakan bertempur hingga siang pendaratan.[30] Kemacetan itu diperparah oleh banyaknya angkatan darat RAAF yang mendarat pada tanggal 1 Mei dengan kapal yang banyak.[31] 7 LST tak diapungkan lagi hingga tanggal 13 Mei.[32]
Setelah mengamankan muka pantai, Grup Brigade ke-26 maju ke timur masuk Kota Tarakan dan ke utara ke arah lapangan udara. Australia menghadapi perlawanan Jepang yang bertambah hebat karena mereka bergerak ke dalam pulau.[33] Tugas menduduki lapangan terbang Tarakan dibebankan kepada Batalion ke-2/24. Serangan awal batalion ke lapangan udara pada malam 2 Mei itu tertunda saat Jepang memasang muatan peledak, dan lapangan itu tak dapat direbut hingga tanggal 5 Mei.[34] Saat pendudukan lapangan udara itu mencapai tugas utama Grup Brigade ke-26, Jepang masih mempertahankan pedalaman Tarakan yang keras.[35]
Selama minggu pertama penyerangan, 7.000 pengungsi Indonesia melewati barisan Australia yang sedang maju. Jumlah ini lebih banyak dari yang diperkirakan, dan pengungsi itu, yang kesehatannya banyak memburuk, membanjiti satuan urusan sipil Belanda. Meskipun terjadi kerusakan di mana-mana akibat pengeboman dan serangan Sekutu, sebagian besar penduduk sipil menyambut pasukan Australia sebagai pembebas.[36] Ratusan penduduk sipil Indonesia kemudian bekerja sebagai buruh dan kerani untuk angkatan Sekutu.[37]

Menjamin keamanan dalam kota[sunting | sunting sumber]

2 prajurit dari Batalion ke-2/23 selama serangan ke Freda
Untuk mengamankan pulau itu dan melindungi lapangan udara dari serangan, Grup Brigade ke-26 dipaksa membersihkan Jepang dari perbukitan di Tarakan yang diselimuti hutan. Sekitar 1.700 pasukan Jepang menggali parit pertahanan di utara dan tengah pulau. Posisi itu dilindungi oleh ranjau.[38] Saat menyerang posisi yang memina banyak pertempuran infantri, pasukan Australia banyak menggunakan artileri dan pasokan udara mereka untuk meminimalisasi korban.[39] Hal ini sejalan dengan perintah Jenderal Thomas Blamey untuk Grup Brigade ke-26 untuk maju secara hati-hati setelah lapangan udara direbut.[40] Tank-tank Australia hanya bisa menyediakan dukungan terbatas kepada infantri tersebut karena lebatnya hutan, rawa-rawa, dan bukit yang curam di Tarakan sering mengurung gerakan mereka ke jalanan. Sebagai akibatnya, umumnya tank tak dapat digunakan untuk membuka jalan bagi penyerangan, dan peranannya terbatas menyediakan tembakan untuk serangan infantri, dengan artileri yang menjadi sumber pilihan bagi dukungan langsung.[41] Deretan pasukan Jepang di Tanjung Djoeata di pesisir utara Tarakan dikalahkan oleh USS Douglas A. Munro pada tanggal 23 Mei.[42]
Batalion Perintis ke-2/3 dan kompi Hindia Belanda dibebani tanggung jawab mengamankan bagian tenggara Tarakan.[43] Perintis itu mulai maju ke timur Kota Tarakan pada tanggal 7 Mei namun menghadapi perlawanan kuat Jepang yang tak terduga. Dari tanggal 10 Mei, batalion itu tertahan di 'Helen', yang dipertahankan oleh 200 pasukan Jepang. Pada tanggal 12 MeiKopral John Mackey terbunuh setelah menduduki 3 pos senapan mesin Jepang sendirian. Secara anumerta Mackey dianugerahi Victoria Cross untuk tindakan kepahlawanan ini. Selama pertempuran di Helen, pengebom berat B-24 Liberator digunakan untuk pasokan udara dekat untuk pertama kalinya, dengan penempur P-38 Lightning menjatuhkan bensin kental segera setelah pengeboman. Gabungan ini sebagian terbukti efektif dan menjadi bentuk standar pasukan udara yang diminta oleh Australia. Angkatan Jepang menarik diri dari Helen pada tanggal 14 Mei setelah mendapat 100 korban, dan Batalion Perintis ke-2/3 mencapai pesisir timur Tarakan pada tanggal 16 Mei. Batalion itu menderita20 korban terbunuh dan 46 terluka dalam gerak maju ini.[44] Selama masa ini, kompi Hindia Belanda menjamin Tarakan selatan sisanya, dan menghadapi perlawanan kecil selama gerak majunya.[45]
Secara bertahap, garnisun Jepang dihancurkan, dan yang selamat meninggalkan posisi terakhir mereka di bukit dan mundur ke utara pulau pada tanggal 14 Juni. Pada hari tersebut, 112 buruh Tiong Hoa dan Indonesia meninggalkan daerah yang dikuasi Jepang dengan catatan dari perwira senior Jepang yang meminta bahwa mereka akan diperlakukan dengan baik.[46] Saat Radio Tokyo mengumumkan bahwa Tarakan telah jatuh pada tanggal 15 Juni, perlawanan Jepang terorganisir terakhir dihadapi pada tanggal 19 Juni dan Whitehead tak menyatakan pulau itu aman hingga tanggal 21 Juni.[47][48]

Masalah pembangunan[sunting | sunting sumber]

Lapangan Udara Tarakan 2 minggu setelah diduduki. Lihat pelubangan yang mendalam.
Saat infantri Grup Brigade ke-26 memerangi Jepang di perbukitan, zeni RAAF dari Sayap Konstruksi Lapangan Udara No. 61 ikut dalam usaha nekat untuk memasukkan lapangan udara Tarakan ke daftar operasi. Karena lapangan udara itu rusak berat akibat pengeboman sebelum serangan dan letaknya di dataran berawa, terbukti akan lebih sulit memperbaiki daripada yang diharapkan,[49] dan memakan waktu 8 minggu dan bukan 1 minggu untuk memperbaiki lapangan udara itu agar bisa dipakai. Digunakanlah secara meluas bahan dari plat baja bersambungan yang diletakkan seperti tikar. Sisa plat itu masih ada di parkir mobil di Bandara Tarakan.
Saat dibuka pada tanggal 28 Juni,[50] lapangan itu terlambat untuk bisa berperan dalam mendukung pendaratan di Brunei atau Labuan (10 Juni), maupun pendaratan di Balikpapan.[51] Namun RAAF Sayap No. 78 bermarkas di Tarakan dari tanggal 28 Juni dan terbang untuk mendukung dalam operasi di Balikpapan hingga akhir perang.[52] Serangan ke Tarakan juga membebaskan penduduk sipil dari pasukan pendudukan Jepang yang kejam.

Pembersihan[sunting | sunting sumber]

Gabungan patroli Australia-Hindia Belanda di bagian terpencil Tarakan
Menyusul akhir perlawanan terorganisir, orang Jepang yang tersisa di Tarakan terpecah ke berbagai kelompok kecil yang menuju ke utara dan timur pulau. Satuan tempur Grup Brigade ke-26 dipindahkan ke bagian Tarakan di mana mereka menyapu orang Jepang. Banyak orang Jepang yang mencoba melintasi selat yang memisahkan Tarakan dari Kalimantan namun tertangkap oleh patroli AL Sekutu.[53]
Dari minggu pertama bulan Juli, orang Jepang yang selamat kekurangan makanan dan mencoba kembali ke kedudukan lama mereka di tengah pulau dan menyerang posisi Australia untuk mencari makanan. Karena lapar banyak orang Jepang yang menyerah. Satuan Australia melanjutkan patroli untuk mencari orang Jepang hingga akhir perang, dengan beberapa orang Jepang terbunuh ataupun menyerah tiap hari.[54] Patroli itu memakan 36 korban lagi antara tanggal 21 Juni-15 Agustus.[55] 300 orang Jepang lari dari penangkapan dan menyerah setelah akhir perang.[56]

Kejadian sesudahnya[sunting | sunting sumber]

Anggota-anggota Batalion ke-2/24 bergambar dengan pedang dan bendera Jepang yang disita pada bulan Juli 1945
Grup Brigade ke-26 tetap di Tarakan sebagai tentara pendudukan hingga tanggal 27 Desember 1945, meskipun sebagian besar kesatuannya dibubarkan di bulan Oktober. Markas brigade itu dikembalikan ke Australia pada awal tahun 1946 dan secara resmi dibubarkan di Brisbane pada bulan Januari 1946.[57]
Ladang minyak Tarakan dengan cepat diperbaiki dan kembali berproduksi. Para insinyur dan teknisi tiba segera setelah pendaratan Sekutu dan pompa minyak pertama diperbaiki pada tanggal 27 Juni. Dari bulan Oktober, ladang minyak pulau itu memproduksi 8.000 barel tiap hari dan menyediakan lapangan kerja bagi banyak penduduk sipil Tarakan.[58]
Satuan Sekutu yang ikut bertempur menyelesaikan tugasnya dengan "kecakapan dan profesionalisme".[59] Dalam menyimpulkan operasi itu, Samuel Eliot Morison menulis bahwa "sama sekali hal ini merupakan operasi amfibi yang dilakukan dengan amat baik yang mencapai tujuannya dengan kerugian minimal".[60] Pertempuran Tarakan menekankan pentingnya peperangan pasukan gabungan, dan khususnya keperluan infantri untuk beroperasi dengan dan didukung oleh tank, artileri dan zeni selama peperangan di hutan.[61]
Lepas dari penilaian Morison, korban Grup Brigade ke-26 amat tinggi dibandingkan dengan pendaratan lain dalam kampanye Borneo. Brigade itu menderita korban lebih dari 2 kali dari Divisi ke-9 selama operasinya di Borneo Utara dan lebih dari 23 kematian daripada Divisi ke-7 yang datang di Balikpapan.[62] Korban Grup Brigade ke-26 yang lebih tinggi bisa diakibatkan oleh tidak bisanya garnisun Tarakan mundur seperti garnisun di Borneo Utara dan Balikpapan.[63]
Pencapaian angkatan pendaratan itu terhapus oleh fakta bahwa lapangan udara di pulau itu tidak bisa membantu aksi. Penilaian intelijen yang salah yang menyebabkan penerbang RAAF percaya bahwa lapangan udara itu bisa diperbaiki menggambarkan kegagalan utama.[64] Apalagi, prestasi RAAF di Tarakan sering buruk. Prestasi ini mungkin diakibatkan dari moral rendah yang lazim di sejumlah unit dan 'Pemberontakan Morotai' yang mengganggu 1 kepemimpinan TAF.[65]
Seperti kampanye Borneo lainnya, operasi Australia di Tarakan masih kontroversial.[66] Debat terus berlanjut atas apakah kampanye itu merupakan "pertunjukan tambahan" yang berarti, atau apakah dibenarkan dalam konteks operasi terencana untuk menyerang Jepang dan membebaskan Hindia Belanda lainnya, yang dijadwalkan bermula pada tahun 1946. Penilaian sejarawan resmi Australia Gavin Long bahwa "hasil yang dicapai tak membenarkan kerugian operasi Tarakan"[67] sesuai dengan pandangan yang umum dianut atas pertempuran itu.[68]