Jumat, 22 November 2019
PAHLAWAN PATTIMURA
Perjuangan Pattimura yang Masih Tegak Berdiri di Jantung Kota Ambon
Home Pariwisata Maluku
Thomas Matulessy atau yang biasa kita dengar sebagai Kapitan Pattimura adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Maluku. Ia berasal dari Pulau Seram lahir pada 8 Juni 1783 dari keluarga keturunan bangsawan Pulau Seram di masa itu. Perihal yang paling kita ingat tentang Pattimura adalah perjuangannya melawan penjajahan Belanda yang masuk ke tanah Maluku untuk menguasai perdagangan rempah-rempah. Salah satu pertempuran terbesar yang dipimpinnya adalah ketika rakyat Maluku bersatu untuk merebut Benteng Duurstede dari tangan penjajah Belanda. Pattimura wafat pada tanggal 16 Desember 1817 di umur 34 tahun karena tertangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan.
Kapitan Pattimura adalah seorang pemimpin yang berwibawa dan penuh kharisma. Dalam perlawanannya melawan penjajahan Belanda, Pattimura dikenal cerdik dan mampu menghimpun kekuatan besar rakyat Maluku sehingga mempersulit pergerakan Belanda di Maluku. Bahkan, namanya pun disegani oleh para pemimpin VOC kala itu yang harus memutar otak untuk menghadapi perlawanan rakyat Maluku. Tidak heran jika Pattimura sangat piawai dalam pertempuran dan menghimpun pasukan, menurut sejarah ia pernah menjadi tentara berpangkat Sersan dalam kekuatan militer Inggris di tanah Ambon.
Jasa dan perjuangan Pattimura sangat berdampak bagi kemerdekaan Indonesia yang kita rasakan bersama saat ini. Walaupun sudah ratusan tahun berlalu, namun nama Pattimura tetap dikenal oleh Bangsa Indonesia hingga masa kini. Pemerintah pun menganugerahi gelar Pahlawan Nasional pada Pattimura dengan harapan dapat menjadi teladan positif bagi generasi penerus Bangsa Indonesia. Tidak hanya sampai disitu, pemerintah lokal kota Ambon pun mengapresiasi perjuangan mulia Pattimura dengan membuat sebuah taman di tengah pusat Kota Ambon dengan patung Pattimura yang gagah berdiri di tengahnya.
Taman Pattimura, begitulah taman itu biasa dikenal oleh warga kota Ambon terdapat di samping lapangan merdeka yang menjadi pusat kegiatan kota Ambon. Taman ini berada di sekitar wilayah perkantoran pemerintah Ambon dan menjadi pusat kegiatan warga Ambon khususnya anak-anak muda yang biasa berolahraga di tempat tersebut baik pada pagi hari maupun sore hari. Tempat ini tidak hanya untuk berolahraga, bahkan para wisatawan pun tertarik untuk mendatanginya karena sudah menjadi salah satu obyek wisata.
Warga Ambon khususnya anak-anak muda disana sering memakai taman ini sebagai tempat berkumpul dan beraktifitas. Bermain voli, lari pagi, atau hanya sekedar bersantai si sore yang indah, seringkali menjadi pilihan aktifitas untuk dilakukan di tempat ini. Sore hari memang menjadi waktu yang tepat untuk bersantai di Taman Pattimura ini. Ramainya aktifitas warga kota Ambon menjadi obyek yang menarik untuk dilihat dengan kita berada di tengah-tengah mereka. Taman Pattimura sejenak menjadi sebuah perenungan ketika keberadaanya dapat dijadikan motivasi bagi anak-anak muda Ambon untuk berjuang membangun Bangsa Indonesia. Seharusnya kita semua semakin bangga dengan perjuangan Pattimura dan berusaha mewujudkan perjuangan serupa untuk masa depan Indonesia.
Warisan Sejarah Dunia Di Kota Ambon
Pariwisata Maluku
Ambon sebagai ibukota provinsi Maluku tidak hanya kaya akan keindahan alam dan budaya, namun salah satu kota besar di Indonesia Timur ini pun memiliki warisan sejarah yang luar biasa. Tidak hanya sejarah yang berkaitan dengan perjuangan meraih kemerdekaan Bangsa Indonesia, Ambon ternyata terhubung dengan kisah sejarah bangsa lain di luar Indonesia. Salah satu kisah sejarah bangsa lain yang terkait dengan Ambon adalah perjuangan para tentara ANZAC melawan Jepang di perang dunia ke-2.
ANZAC sendiri adalah satuan tentara gabungan Australia dan Selandia Baru yang awalnya dibentuk oleh sekutu untuk melawan kekuatan pasukan Turki pada perang dunia ke-1. Pasukan ANZAC umumnya berisi para serdadu yang berasal dari Negara-negara sekutu, terutama persemakmuran Inggris seperti India, Kanada, Afrika Selatan, Selandia Baru dan Australia sendiri. Namun, dalam perkembangannya pada perang dunia ke-2, pasukan ANZAC terus diberikan misi dan salah satunya adalah melawan kekuatan Jepang.
Langit yang biru di atas Ambon siang itu membawa saya dan rombongan lain menuju sebuah taman indah di pinggiran kota Ambon. Taman ini bukanlah taman biasa, namun merupakan sebuah makam para pejuang ANZAC yang gugur dalam pertempuran melawan kekuatan tentara Jepang di perang dunia ke-2. Makam ini dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi sangat indah, bahkan bagi sebagian wisatawan tempat ini merupakan sebuah obyek wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi.
Satu hal yang menjadi pertanyaan saya ketika mengunjungi makam ini adalah bagaimana kisahnya hingga para serdadu yang gugur ini bisa dimakamkan di Ambon, padahal tidak banyak peristiwa perang antara sekutu dan Jepang yang terjadi di tempat ini. Ternyata, wilayah makam ini merupakan sebuah penampungan tawanan perang Australia yang kemudian dibeli oleh pemerintah Australia untuk dijadikan makam bagi para serdadu yang gugur di tempat pada masa itu. Umumnya para serdadu gugur ini berasal dari Batalyon 2/21 Australia “Gull Force”.
Hingga kini, keluarga para serdadu ANZAC yang gugur masih sering mengunjungi kompleks pemakaman ini. Mereka melakukannya terutama pada tanggal 25 April yang diperingati sebagai ANZAC day dimana pasukan ANZAC pertama kali diterjunkan ke wilayah Gallipoli, Turki pada perang dunia ke-1. Kompleks pemakaman ini merupakan tempat yang berarti bagi keluarga para serdadu yang gugur dalam mengenang kisah perjuangan tentara ANZAC. Pemerintah Indonesia pun bekerjasama dengan pemerintah Australia mengelola tempat ini dengan sangat baik sehingga tampak indah hingga kini.
Rumput yang begitu terjaga keindahannya, makam yang berbaris rapi, dan pepohonan yang diatur sehingga meneduhkan tempat ini membuat saya seolah sedang berada di pemakaman luar negeri. Di dekat pintu gerbang depan terdapat sebuah monumen yang berisi nama-nama para serdadu yang gugur. Untuk diketahui, posisi pemakaman ini juga dekat dengan Makam Pahlawan Nasional Indonesia di kota Ambon. Yang pasti, semua dana untuk merawat pemakaman ini ditanggung oleh Australia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar